Rabu, 09 Oktober 2013

Jangan Sok Suci

Pintu surga akan tertutup rapat salah satunya kepada orang yang memiliki sifat sombong. Sebab sifat sombong adalah sifat Iblis. Ketika Iblis diperintah bersujud kepada Adam As, Iblis menolaknya, dengan mengatakan “Saya lebih baik daripadanya” seperti dikisahkan dalam Firman Tuhan di bawah ini:
Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS 7:12)
Dalam kisah di atas Iblis memiliki sifat mengagung-agungkan asal-usul, itulah kesombongan Iblis yang menyebabkan Allah Swt murka dan mengusirnya dari surga seperti dikisahkan di bawah ini:
Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”. (QS 7:13)
Tapi dasar Iblis, dia tidak gentar menghadapi murka Allah Swt dan malah menawarnya seperti diceritakan di bawah ini:
Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”. (QS 7:14)
Dan Iblis akan berusaha sekuat tenaga untuk menggoda manusia agar manusia ikut tergelincir menjadi teman Iblis di Neraka seperti dikisahkan dalam ayat di bawah ini:
Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta’at) (QS 7: 16-17)
Godaan Iblis pada manusia adalah dengan menularkan sifat sombongnya sehingga pintu surga akan tertutup bagi manusia yang memiliki sifat yang sama dengan Iblis. Sombong yang terang-terangan adalah yang seperti dilakukan Iblis yaitu mengagung-agungkan asal-usul. Saya ini orang hebat, saya ini darah biru, saya ini orang kaya, saya ini orang pandai dan seterusnya.
Tapi ada kesombongan yang sangat halus sekali, yaitu ketika seseorang memiliki rasa, “Saya ini adalah orang suci (ahli Ibadah)”. Ini merupakan kesombongan yang sangat halus yang menurut saya sudah masuk ke dalam jebakan Iblis. Sebab di dalam Qur’an sangat jelas adanya larangan untuk menjadi sok suci seperti diuraikan dalam ayat ini.
(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunanNya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. (QS 53:32)
Sok suci adalah bentuk kesombongan yang sangat halus yang terkadang pelakunya tidak merasa bersalah bahwa dirinya telah masuk dalam perangkap Iblis.
Kenapa manusia tidak boleh sok suci. Manusia itu berasal dari tanah dan keturunannya dari “banyu sak crit” yang hina dina.
Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. (QS 32: 7-8)
Tanah selalu diinjak-injak dan banyu sak crit tadi tidak bisa memberi perlawanan ketika diludahi, dikencingi, dibuang ke comberan dan lain sebagainya.
Orang sok suci saya kira nanti akan mendapati pintu surga yang tertutup rapat ketika dia akan melewatinya, kasihan sekali.
Bagaimana agar kita tidak menjadi manusia sok suci. Yaitu kita harus menjadi manusia dengan keikhlasan tingkat tinggi. Kita harus memiliki keikhlasan “plung-plas” atau seperti orang BaB, sehingga setiap dia melakukan kebaikan setelah itu dia tidak ingat sama sekali. Seolah-olah dia mengatakan, “Ya Tuhan, saya sudah melaksanakan perintah-Mu, selanjutnya penilaian saya serahkan kepada Paduka. Saya akan melupakannya karena saya takut kalau masih mengingatnya akan mengganggu keikhlasanku yang menyebabkan hilangnya pahala atas amalku.”
Ada ayat yg menceritakan tentang keikhlasan tingkat tinggi ini yaitu:
Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka (QS 23:60)
Ketika ayat ini diterima Aisyah isteri Nabi Saw, Aisyah bingung. “Ayat ini aneh Wahai Nabi. Ada orang beramal kok malu ketika menghadap Tuhan. Apakah orang ini selain melakukan kebaikan juga melakukan kemaksiyatan seperti mencuri, berzina dan lain sebagainya”. Nabi menjawab, “Bukan begitu isteriku, ini adalah keikhlasan tingkat tinggi. Orang tersebut melakukan kebaikan tapi dia lupa sehingga malu-malu ketika menghadap Tuhan. Dia tidak ingat lagi amalan-amalan yang telah dilakukannya sehingga agak takut ketika menghadap Tuhan. Padahal pintu surga terbuka lebar baginya”.
Tidak ada larangan untuk mengingat-ingat amal perbuatan baik yang pernah kita kita lakukan, tapi resikonya sangat berbahaya yaitu dapat menyebabkan kita menjadi sok suci.
Mohon maaf jika ada kesalahan. Matur sembah nuwun.

Pengikut