Senin, 15 April 2013

ANTI KORUPSI DI CINA

ANTI KORUPSI DI CINA

BEIJING, KOMPAS.com — Pemimpin baru China Xi Jinping memperingatkan, jika korupsi dibiarkan merajalela di negeri itu, Partai Komunis akan kehilangan legitimasi dan kekuasaannya akan ambruk. Demikian pernyataan Xi Jinping dikutip media pemerintah, Senin (19/11/2012).

Dalam bahasa yang lugas—jarang sekali dilakukan seorang pejabat tinggi China—Xi mengatakan korupsi dan suap layaknya belatung yang hidup dalam benda busuk. Kalimat yang dia ucapkan itu adalah sebuah peribahasa China kuno yang berarti kehacuran menanti mereka yang lemah.

"Beberapa tahun belakangan, sejumlah negara bermasalah dengan kemarahan publik, pemberontakan rakyat, dan keambrukan pemerintahan. Korupsi menjadi faktor penentu masalah-masalah ini," kata Xi dalam sambutannya di harapan Politbiro, badan pengambil keputusan tertinggi kedua dalam Partai Komunis China.

"Banyak fakta menunjukkan hasil akhir korupsi adalah berakhirnya partai dan negara! Kita harus melawan!" tambah Xi.

"Belakangan, partai menghadapi masalah disiplin dan hukum serius terkait korupsi yang memberikan efek buruk bagi partai dan sangat mengejutkan rakyat," kata Xi tanpa menyebut insiden korupsi yang disinggungnya.

Namun, semua kalangan memahami, pergantian gerbong kepemimpinan China ini dibayangi kasus Bo Xilai, yang pernah menjadi calon kuat pemimpin China di masa depan. Bo dipecat dari keanggotaan partai dan kemungkinan besar akan menghadapi tuduhan korupsi dan penyalahgunaan wewenang, sementara istrinya dipenjara karena membunuh seorang pebisnis Inggris.

Mengambil contoh kasus Bo Xilai, Xi meminta para pejabat senior partai tidak menyalahgunakan posisi mereka demi kepentingan pribadi. Sebab, Xi menegaskan, para petinggi partai tidak berada di atas hukum.

"Para pejabat harus memperkuat manajeman dan kendali atas hubungan mereka dengan orang-orang yang bekerja dengan mereka," ujar Xi.

Salah satu contoh kasus dugaan korupsi adalah tudingan The New York Times yang menulis PM Wen Jiabao dan keluarganya menimbun kekayaan hingga 2,7 juta dollar AS. Sebuah laporan yang dianggap Pemerintah China terlalu berlebihan.



Pengikut